Rabu, 24 Desember 2008

Mengharap Tuah Sunan Bonang


Ribuan Peziarah Hadiri Jamasan Pusaka Bende Kyai Becak

Jika di Kudus Kota ada Sumur Tulak yang dipercaya airnya bertuah. Atau di sendang Bunton Desa Rahtawu konon mengeluarkan lenga tala yang dipercaya ampuh sebagai obat mujarab. Lain lagi di Lasem, Air Jamasan Pusaka Bende Kyai Becak, Diyakini mampu mendatangkan keberuntungan tersendiri.

SAIFUL ANNAS-REMBANG

Acara Jamasan (pensucian,red) Pusaka Bende Kyai Becak yang sedianya baru dimulai pukul 09.00 WIB Minggu (8/11) kemarin, telah ramai oleh ribuan peziarah. Bahkan, banyak peziarah yang telah datang pada malam sebelumnya. Mereka menginap di rumah penduduk atau juga di pesarean (makam, red) Sunan Bonang yang terletak tak jauh dari tempat prosesi.

Ketika RT sampai di Desa Bonang Kecamatan Lasem tepat pukul 09.00 WB, koran ini harus berdesakan dengan pengunjung yang telah memadati rumah H Nur wahid, juru kunci pusaka itu. Beruntung, koran ini “dimudahkan” untuk memasuki kompleks rumah berarsitektur joglo itu.

Di dalam dan luar rumah, ribuan peziarah tak sabar menanti pembagian air bekas pensucian pusaka itu. Air yang telah diberi kembang itu ditaruh dalam puluhan gentong besar berwarna biru dan merah. Satu bejana yang terbuat dari kuningan, diletakkan tepat berada di depan juru kunci. Air inilah yang digunakan pertama kali untuk menjamas pusaka itu.

Prosesi pun dimulai. Sebelumnya, warga diwanti-wanti bahwa air ini hanya lantaran (perantara,red) saja. Semua kebaikan, keberuntungan atau nasib baik, semua hanya datang dari Tuhan, demikian yang berulangkali disampaikan Nor wahid. Peziarah pun mengamini nasihat itu.

Banyak kisah tentang awal mula Bende Kyai Becak itu, hingga akhirnya dipercaya memilki tuah tersendiri. Salah satu kisah yang hingga kini dipercayai warga Desa Bonang dan puluhan peziarah lainya dituturkan oleh Abdul Rohim, tokoh masyarakat setempat.

Dikisahkan, Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) mengirim surat kepada Raja Brawijaya, Raja Majapahit kala itu yang masih memeluk Hindu, untuk mau memeluk Agama Islam. Selang beberapa waktu kemudian, Raja Brawijaya pun mengutus seorang utusan bernama Becak.

Becak kemudian berangkat menuju kediaman Sunan Bonang. Saat Maghrib tiba, Becak memasuki kawasan kediaman Putra Raden Rahma itu. Seperti kebiasaan umat HinduKala itu, ia pun uro-uro (memuji dengan bernyanyi,red). Warga desa terpesona dengan suara nyanyian puji-pujianya.

Sang Sunan, yang kala itu sedang mengajar mengaji kepada santri-santrinya, merasa terganggu dengan ritual Becak itu. Sontak salah satu santrinya bertanya. “Suara apakah itu kanjeng Sunan?” tanya sang Sunan. Seorang santri yanglain menjawab jika itu suara manusia. Sang Sunan pun menyanggah jawaban santrinya. “Bukan, itu suara bende (semacam gong kecil,red),” katanya.

Syahdan, Becak, utusan dari raja Brawijaya itu berubah menjadi bende. Bende itu kemudian dijadikan alat syiar agama Islam. Sunan Bonan sering menggunakan bende itu untuk memanggil muridnya untuk mengaji.

Begitulah, hingga akhirnya bende dan sebuah bulatan yang terbuat dari batu itu kemudian dikeramatkan dan diyakini memiliki tuah. Warga meyakini, air yang digunakan untuk mencuci itu diyakini mampu memberikan keberuntungan atau sebagai obat.

Seperti Siti Mutmainah misalnya, ia sengaja datang bersama suaminya dari Kabupaten Demak hanya untuk mendapatkan air jamasan itu. Wanita yang telah puluhan tahun menikah dan belum dikaruniai anak ini, berharap dapat segera mempunyai keturunan melalui perantara air tersebut.

Terlepas dari apa tujuan peziarah, Nor Wahid berkali-kali menegaskan jika air itu hanya sebagai perantara saja. Jamasan ini sejatinya digelar untuk mengingatkan generasi muda agar tahu dan terus menjaga sejarah yang telah diwariskan turun temurun itu..

Demi menjaga sejarah dan merawat benda-benda bersejarah itu, Nor Wahid berusaha tetap melestarikan acara jamasan yang digelar tiap 10 Dzulhijah atau bertepatan dengan Idul Qurban. “Ibarat obat, air ini hanya menjadi perantara saja, yang menyembuhkan hanyalah Allah,” tegasnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar